Tradisi Bancakan Ageng Kemukus menggunakan wadah tradisional bernama encek, yaitu alas dari anyaman bambu. Penggunaan encek tidak hanya mempertahankan unsur budaya, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga kearifan lokal yang mulai jarang dikenal generasi muda.
Menurut Bupati, banyak generasi saat ini yang mulai jauh dari tradisi bancakan. Karena itu, pemerintah daerah ingin menghadirkan kembali budaya tersebut dengan kemasan yang lebih relevan.
“Orang-orang dulu mengenal bancakan dan encek, tetapi sekarang banyak yang tidak tahu. Ini menjadi bagian dari upaya agar tradisi Jawa tetap hidup dan diwariskan,” katanya.
Selain Bancakan Ageng, Pemkab Sragen juga meresmikan Galeri Kemukus sebagai pusat informasi sejarah dan budaya kawasan tersebut.
Galeri itu nantinya menjadi ruang edukasi yang menyajikan berbagai informasi mengenai sejarah Gunung Kemukus, Pangeran Samudro, dan Nyai Ontrowulan melalui foto, lukisan, serta berbagai materi sejarah.
Bupati Sigit berharap keberadaan galeri tersebut dapat memberikan pemahaman yang lebih baik kepada masyarakat dan wisatawan mengenai sejarah kawasan Gunung Kemukus.
“Galeri ini akan terus dilengkapi dengan informasi positif sehingga pengunjung mendapatkan gambaran sejarah yang benar,” jelasnya.
Sebelum Bancakan Ageng digelar, rangkaian Suran diawali dengan tradisi Larap Slambu atau pencucian selambu makam Pangeran Samudro.
Prosesi dilakukan dengan pelepasan kelambu oleh juru kunci, kemudian dibawa menuju Palataran Pasucen Tirto Kencono untuk disucikan.
Editor : Joko Piroso
Artikel Terkait
