Selain itu, mahasiswa meminta pemerintah mengevaluasi secara menyeluruh sejumlah program strategis, termasuk MBG dan Kopdes. Mereka menilai pelaksanaan program tersebut perlu dikaji kembali agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat.
Aliansi BEM Solo Raya juga menuntut pemerataan pembangunan infrastruktur pendidikan dan kesehatan, terutama di wilayah tertinggal, terdepan dan terluar (3T). Pemerintah didesak memprioritaskan anggaran untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat.
Persoalan harga energi dan kebutuhan pokok turut menjadi sorotan. Mahasiswa menolak kenaikan harga BBM, termasuk Pertamax, serta menyoroti persoalan distribusi Pertalite yang dinilai berpengaruh terhadap kenaikan harga kebutuhan pokok dan tekanan ekonomi masyarakat.
Dimas menegaskan aksi tersebut tidak berhenti pada satu momentum. Aliansi BEM Solo Raya menyatakan akan melanjutkan gelombang aksi apabila pemerintah belum memberikan respons konkret terhadap tuntutan mahasiswa.
“Kami akan terus mengawal dan menyuarakan tuntutan ini sampai ada respons konkret dari pemerintah,” tegasnya.
Editor : Joko Piroso
Artikel Terkait
