Sementara untuk pasar yang mencari produk dengan harga lebih terjangkau, Suwanti mengandalkan batik printing berbahan katun prima premium. Produk berupa pakaian jadi disebut dapat dipasarkan sekitar Rp150 ribu.
“Untuk masyarakat menengah ke bawah, batik printing berbahan katun prima premium jadi pilihan utama. Baju jadinya dibanderol sekitar Rp150 ribu,” jelasnya.
Di balik perkembangan pasar batik lokal, perajin Sragen juga menghadapi tantangan dari perdagangan melalui platform online. Suwanti menyebut persaingan harga menjadi salah satu persoalan yang paling dirasakan pelaku usaha.
Menurut dia, konsumen kini memiliki banyak pilihan produk batik dengan harga yang beragam. Kondisi tersebut membuat perajin lokal harus mempertahankan kualitas bahan dan warna untuk bersaing.
“Tantangan terbesar saat ini adalah persaingan di pasar online. Banyak tiruan yang harganya jauh lebih murah,” ujarnya.
Suwanti menilai kualitas bahan dan ketahanan warna menjadi salah satu aspek yang perlu dipertahankan perajin lokal untuk menjaga kepercayaan konsumen.
“Tapi kalau bicara kualitas bahan dan keawetan warna, batik Sragen tentu sangat berbeda dan tidak perlu diragukan,” imbuhnya.
Editor : Joko Piroso
Artikel Terkait
