Sementara itu, siswa tunarungu memperoleh bantuan guru yang menggunakan bahasa isyarat, termasuk saat penyampaian visi dan misi calon serta penjelasan teknis pemilihan.
Hak pilih dalam kegiatan ini diberikan kepada siswa jenjang SMP dan SMA. Adapun pemilihan untuk jenjang SD diwakili orang tua murid. Guru bertugas sebagai panitia pelaksana dengan mekanisme yang disesuaikan dengan kegiatan sekolah.
Melalui sistem elektronik tersebut, hasil suara dapat dihitung secara otomatis setelah pemungutan suara berlangsung, tanpa penghitungan manual seperti pada pemilihan konvensional.
Mardani berharap kegiatan ini menjadi bekal bagi siswa untuk memahami nilai demokrasi dan tata cara pemilu ketika kelak memenuhi syarat sebagai pemilih.
“Kami berharap ini menjadi dasar pengamalan nilai Pancasila sila keempat tentang musyawarah dan demokrasi, serta membentuk sekolah yang berintegritas dan jujur serta adil,” katanya.
Editor : Joko Piroso
Artikel Terkait
