Menurut Ito, penggunaan bahasa Jawa menjadi salah satu unsur yang membuat cerita terasa dekat dengan penonton. Meski demikian, ia berharap film tersebut dapat dinikmati masyarakat dari berbagai daerah karena mengangkat tema perjuangan, cinta, kasih sayang, keikhlasan, dan pengorbanan.
Ito juga mengungkapkan kekagumannya terhadap Woko Channel yang selama ini dikenal melalui konten komedi khas Jawa Timur. Kecintaan terhadap karya mereka mendorongnya menghadirkan para talenta tersebut dalam film layar lebar.
Bagi Mukidi, bermain dalam film layar lebar menghadirkan pengalaman baru. Ia mengaku sempat merasa takut ketika mendapat tawaran tersebut, tetapi tertarik setelah membaca naskah yang dinilainya unik dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.
“Awalnya ditawari main film ya aslinya wedi (takut). Ini bukan rencana jangka panjang, tapi pas baca skrip ceritanya unik dan relate. Tantangan terbesarnya tentu saja harus menggunakan bahasa Indonesia karena saya biasanya belepotan, plus harus melakoni adegan drama menangis yang belum pernah saya lakukan sebelumnya,” ujar Mukidi.
Proses pengambilan gambar film tersebut berlangsung sekitar 20 hari dengan lokasi syuting di kawasan Jabodetabek. Film ini turut dibintangi Dara Sarasvati, Gabriella Desta, Devina Aureel, dan Lorenzo Gibs.
Kehadiran para pemain dalam roadshow di Sragen juga menarik perhatian penonton, termasuk kalangan generasi Z dan milenial yang ingin bertemu langsung dengan para pemeran.
Editor : Joko Piroso
Artikel Terkait
