Tradisi Suro di Bantul, Bupati Pimpin Jamasan Tombak Pusaka Kyai Hagnya Murni
Selain sebagai bentuk perawatan fisik terhadap pusaka, prosesi jamasan juga memiliki makna simbolis. Dalam tradisi masyarakat Jawa, Bulan Suro menjadi momentum untuk membersihkan diri, melakukan introspeksi, serta memperbarui niat dalam menjalani kehidupan pada tahun berikutnya dengan lebih baik.
Pada pelaksanaan tahun ini, prosesi jamasan tidak hanya dilakukan terhadap Tombak Pusaka Kyai Hagnya Murni beserta tombak pendamping, tetapi juga terhadap 17 tombak pusaka milik kapanewon se-Kabupaten Bantul. Selain itu, sebanyak 15 tombak Pamor Budaya milik kalurahan yang telah berstatus Kalurahan Mandiri Budaya juga turut menjalani prosesi yang sama.
Melalui penyelenggaraan tradisi tahunan tersebut, Pemerintah Kabupaten Bantul berharap nilai-nilai budaya dan kearifan lokal yang diwariskan leluhur dapat terus dilestarikan sekaligus dikenalkan kepada masyarakat, terutama generasi muda, sebagai bagian dari identitas budaya Yogyakarta.
Editor : Joko Piroso