get app
inews
Aa Text
Read Next : DPRD Sukoharjo Minta Audit Tower BTS Tua Setelah Rumah Warga Tersambar Petir

Warga Sragen Tengah Protes Polusi PG Mojo, Manajemen Siap Kurangi Produksi Bertahap

Senin, 27 Juli 2026 | 18:00 WIB
header img
Warga terdampak polusi PG Mojo menyampaikan keluhan dalam audiensi bersama Komisi III DPRD Sragen, DLH, dan manajemen pabrik, Senin (27/7/2026).Foto:iNews/Joko P

SRAGEN, iNewsSragen.idKeluhan warga terhadap polusi udara dan limbah dari aktivitas Pabrik Gula (PG) Mojo Sragen kembali mencuat. Warga yang tinggal di sekitar pabrik meminta solusi konkret atas dampak abu pembakaran dan limbah yang dinilai mengganggu kesehatan maupun lingkungan.

Persoalan tersebut mengemuka dalam audiensi antara warga, Komisi III DPRD Kabupaten Sragen, Dinas Lingkungan Hidup (DLH), dan manajemen PG Mojo di Gedung DPRD Sragen, Senin (27/7/2026).

Dalam pertemuan itu, warga menyampaikan berbagai keluhan, mulai dari abu pembakaran (langes) yang mengotori permukiman hingga limbah blotong yang disebut menimbulkan bau menyengat di sekitar sungai dan lahan pertanian.

Sri Kodariyah (60), warga Kampung Cantel Wetan, Kecamatan Sragen Tengah, mengaku rumahnya selama tiga tahun terakhir kerap dipenuhi abu hasil pembakaran pabrik.

"Katanya akan membeli alat penyaring, tetapi sampai sekarang belum ada realisasinya. Kalau memang sudah dipesan, kami berharap ada kepastian," ujarnya.

Keluhan serupa disampaikan Ruli (40), warga setempat. Ia mengaku anaknya sempat menjalani perawatan di Instalasi Gawat Darurat (IGD) pada 22 Juli 2026 setelah matanya diduga kemasukan langes.

Selain itu, warga juga mengeluhkan limbah blotong yang dibuang di sekitar sungai dan area persawahan sehingga menimbulkan bau tidak sedap.

Menanggapi aspirasi tersebut, anggota Komisi III DPRD Sragen Budiono Rahmadi mengatakan pihaknya telah melakukan peninjauan langsung ke PG Mojo sebelum audiensi berlangsung.

"Kami berharap ada solusi bagi masyarakat sebelum filter baru dipasang sehingga dampak yang dirasakan warga dapat diminimalkan," katanya.

Anggota Komisi III lainnya, Joko Supriyanto, meminta DLH terus meningkatkan koordinasi dengan pihak pabrik. Menurutnya, meskipun dari sisi administrasi perusahaan telah memenuhi ketentuan, dampak yang dirasakan masyarakat tetap harus menjadi perhatian.

"Yang dirasakan masyarakat adalah dampaknya. Karena itu perlu langkah nyata agar persoalan ini bisa segera diatasi," ujarnya.

Sementara itu, anggota Komisi III Haris menilai keberadaan PG Mojo memiliki peran penting bagi perekonomian daerah dan petani tebu. Namun demikian, operasional pabrik tetap harus memperhatikan dampak lingkungan.

Senada, anggota Komisi III Imas meminta DLH meningkatkan pengawasan terhadap potensi pencemaran udara maupun limbah yang dihasilkan selama musim giling.

Ketua Komisi III DPRD Sragen Sugiyarto mengusulkan langkah jangka pendek berupa pengurangan kapasitas produksi sambil menunggu pemasangan sistem penyaring emisi (filter).

"Kalau dampaknya masih terjadi, tentu harus dilakukan evaluasi kembali, termasuk pengurangan produksi apabila diperlukan," tegasnya.

Ia juga meminta manajemen PG Mojo segera merealisasikan pengadaan filter serta memastikan limbah blotong diolah sesuai ketentuan sebelum dibuang ke lingkungan.

Juru bicara warga Cantel Wetan, Septi Andriani, berharap terdapat solusi yang dapat langsung dirasakan masyarakat, mulai dari pembersihan lingkungan secara berkala hingga perhatian terhadap dampak kesehatan dan kerugian ekonomi warga.

Menanggapi aspirasi tersebut, Pimpinan Bagian Keuangan dan Umum PG Mojo Sragen, Samuel Mahendra, mengatakan perusahaan siap melakukan pengurangan produksi secara bertahap sambil menunggu rekomendasi resmi dari DPRD Sragen dan DLH.

"Setelah audiensi ini kami menunggu rekomendasi dari DPRD maupun DLH. Karena target produksi telah ditetapkan, setiap penyesuaian produksi harus dilaporkan dan dikoordinasikan terlebih dahulu," ujarnya.

Samuel menambahkan, langkah jangka pendek yang memungkinkan dilakukan saat ini adalah penurunan kapasitas produksi menuju tingkat produksi tahun sebelumnya, yang menurut evaluasi perusahaan dinilai tidak terlalu menimbulkan dampak seperti saat ini.

Selain itu, PG Mojo juga tengah berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan untuk menyiapkan layanan kesehatan bagi masyarakat di wilayah terdampak.

Ia menjelaskan, pengurangan produksi tidak dapat dilakukan secara drastis karena juga berkaitan dengan proses giling tebu milik petani. Menurutnya, penyesuaian harus dilakukan secara bertahap agar tidak menimbulkan dampak terhadap petani maupun target produksi daerah.

Dengan musim giling yang masih berlangsung hingga Oktober 2026, warga berharap komitmen pengurangan produksi, percepatan pemasangan filter, serta pengelolaan limbah dapat segera direalisasikan sehingga dampak terhadap kesehatan dan lingkungan dapat diminimalkan.

Editor : Joko Piroso

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut