Siswa SMPN 1 Blora Diduga Dipukul Dua Hari Berturut-turut, Kasus Dilaporkan ke Polisi
BLORA, iNewsSragen.id – Kasus dugaan perundungan terjadi di lingkungan SMPN 1 Blora, Jawa Tengah. Seorang siswa dilaporkan mengalami luka pada bibir dan memar di wajah setelah diduga mengalami kekerasan oleh sejumlah teman sekolahnya.
Korban disebut masih menjalani pemulihan dan belum kembali mengikuti kegiatan belajar di sekolah karena mengalami trauma.
Tokoh masyarakat Blora sekaligus penasihat hukum keluarga korban, Danu Sukoco, mengatakan dugaan kekerasan tersebut terjadi dua kali, yakni pada Jumat (7/8/2026) dan Sabtu (8/8/2026).
Berdasarkan keterangan korban yang diterima Danu, persoalan bermula dari aksi saling menjahili di lingkungan sekolah. Korban sebelumnya disebut menjadi sasaran jebakan gayung berisi air yang diletakkan di atas pintu toilet.
Korban kemudian membalas dengan membuat jebakan serupa. Namun, korban mengaku tidak mengetahui siapa yang terkena jebakan tersebut."Setelah itu hari Jumat korban dipukuli. Dia diam saja. Seharinya lagi, dia ketemu temannya, menyampaikan seseorang ingin ketemu. Akhirnya korban ke lantai dua yang masih berada di lingkungan sekolah. Dia dipukuli lagi, ditendang lagi," kata Danu, Kamis (13/8/2026).
Akibat dugaan kekerasan tersebut, korban mengalami luka robek pada bibir hingga harus mendapat jahitan. Wajah korban juga mengalami sejumlah memar dan telah mendapatkan perawatan medis.
"Sudah diobatkan di rumah sakit. Diberi obat. Orang tua menanggung biaya," ujarnya.
Danu mengatakan sejumlah orang tua siswa yang diduga terlibat telah mendatangi keluarga korban dan menyampaikan permintaan maaf. Namun, ia menyebut masih terdapat orang tua siswa yang dinilai belum menunjukkan empati terhadap kondisi korban.
Ia juga mempertanyakan pengawasan di lingkungan sekolah karena dugaan kekerasan disebut terjadi dalam dua hari berturut-turut.
"Harusnya sekolah tahu. Keamanannya, guru, apalagi guru BK. Harus tahu kondisi anak. Harusnya sekolah kontrol," tegasnya.
Kasus dugaan perundungan tersebut telah dilaporkan kepada Polres Blora. Keluarga korban berharap kejadian itu menjadi bahan evaluasi terhadap sistem pengawasan serta upaya pencegahan kekerasan di lingkungan sekolah.
Disdik Blora Turun Tangan
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Blora, Sunaryo, membenarkan adanya siswa yang mengalami pemukulan oleh teman sekolahnya. Namun, ia meminta seluruh pihak mendalami kronologi secara utuh agar persoalan dapat dilihat secara berimbang.
"Kemarin saya minta bapak ibu guru hadir ke rumah korban, bertemu orang tua untuk menyampaikan kronologi kasus yang sebenarnya agar informasinya seimbang," kata Sunaryo.
Dinas Pendidikan bersama Dinas Sosial juga telah mendatangi rumah korban. Koordinasi dilakukan dengan pihak sekolah dan siswa yang diduga terlibat untuk mencegah kejadian serupa terulang.
Terkait laporan yang telah disampaikan kepada Polres Blora, Sunaryo mengatakan pihaknya akan terus melakukan pemantauan. Apabila proses hukum membutuhkan kehadiran anak-anak, Dinas Pendidikan akan berkoordinasi dengan sekolah.
"Ini usia anak, jadi harus hati-hati agar tidak menimbulkan trauma. Kami berharap persoalan ini tidak berlanjut ke jalur hukum jika masih bisa diselesaikan secara kekeluargaan," ujarnya.
Sunaryo menyebut sekolah telah dibekali program budaya sekolah aman dan nyaman melalui kelompok kerja (Pokja). Meski demikian, pencegahan perundungan tetap menjadi tantangan yang membutuhkan pengawasan lebih kuat.
"Guru harus ekstra hati-hati. Banyak faktor yang memengaruhi anak sekarang, termasuk dunia digital. Pengawasan harus lebih ditingkatkan," tegasnya.
Mengenai jumlah siswa yang diduga terlibat, Sunaryo mengaku belum mengetahui secara pasti. Beberapa siswa disebut telah mengakui melakukan pemukulan dan penendangan.
Dinas Pendidikan memastikan akan terus memantau perkembangan kasus tersebut agar tidak mengganggu proses belajar mengajar maupun menimbulkan dampak lanjutan terhadap para siswa.
Editor : Joko Piroso