Siswi 16 Tahun di Karo Alami Gangguan Ingatan, Dokter: Penyebab Harus Diperiksa Menyeluruh
YOGYAKARTA, iNewsSragen.id – Siswi 16 tahun di Karo mengalami gangguan ingatan setelah dugaan keracunan MBG. Dokter menilai penyebabnya perlu dipastikan lewat pemeriksaan menyeluruh.
Kondisi siswi tersebut perlu mendapat pemeriksaan medis secara menyeluruh. Hubungan antara gangguan kesehatan yang dialami setelah mengonsumsi makanan MBG dengan gangguan neurologis yang muncul hingga kini belum dapat dipastikan.
Siswi SMK Bersama Berastagi bernama Febiola Purba dilaporkan mengalami penurunan daya ingat, kesulitan berbicara, serta sempat tidak mengenali anggota keluarga dan orang-orang terdekatnya.
Febiola merupakan salah satu dari ratusan pelajar yang dilaporkan mengalami gangguan kesehatan setelah menyantap makanan MBG pada pertengahan Agustus 2026.
Keluarga menyebut kemampuan mengingat Febiola menurun sekitar 70 persen. Namun, angka tersebut merupakan keterangan dari pihak keluarga dan bukan hasil pengukuran fungsi kognitif yang telah diumumkan oleh tim medis.
Dosen Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Neurologi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), dr. Wahyu Wihartono, M.Kes., Sp.N., FMIN., menjelaskan bahwa jenis toksin tertentu akibat keracunan makanan secara medis dapat memengaruhi fungsi otak dan sistem saraf.
Menurut Wahyu, toksin dapat mengganggu sistem neurotransmiter, yakni zat kimia yang berperan membawa pesan antarsel saraf. Gangguan komunikasi sel saraf tersebut dapat memengaruhi sejumlah fungsi kognitif, termasuk perhatian, kemampuan berpikir, dan daya ingat.
“Intoksikasi akibat keracunan makanan memang dapat menyebabkan gangguan fungsi otak. Toksin dapat memengaruhi fungsi neurotransmiter sehingga mengganggu kerja sel-sel otak. Kondisi tersebut dapat menimbulkan gangguan kognitif, termasuk gangguan daya ingat,” kata Wahyu, Kamis (10/9/2026).
Meski demikian, ia menegaskan bahwa penjelasan tersebut merupakan gambaran medis secara umum dan tidak serta-merta membuktikan penyebab gangguan yang dialami Febiola.
Untuk menentukan penyebab pada pasien tertentu, dokter perlu mempertimbangkan jenis toksin, tingkat paparan, gejala klinis, riwayat penyakit, serta hasil berbagai pemeriksaan penunjang.
Gangguan neurologis setelah keracunan juga tidak selalu terjadi akibat toksin secara langsung. Kondisi lain, seperti kekurangan oksigen atau hipoksia, gangguan metabolik, maupun kejang berkepanjangan, juga dapat memengaruhi fungsi sel saraf.
“Kerusakan sel otak tidak selalu terjadi akibat toksin secara langsung. Ada faktor-faktor lain yang dapat ikut berperan. Karena itu, mekanisme dan penyebab gangguan pada setiap pasien harus diperiksa secara menyeluruh,” ujarnya.
Wahyu menilai gangguan ingatan setelah dugaan keracunan perlu mendapat perhatian dan tidak seharusnya dianggap sebagai keluhan biasa. Namun, penyebab dan tingkat gangguan tetap harus ditentukan melalui pemeriksaan medis.
Dalam kasus Febiola, pemeriksaan masih berlangsung. Ia dilaporkan sempat mengalami kejang dan menjalani pemeriksaan elektroensefalografi (EEG) di RSUP H. Adam Malik Medan pada Senin (7/9/2026).
EEG merupakan pemeriksaan untuk merekam aktivitas listrik otak dan dapat membantu dokter mengevaluasi kejang maupun aktivitas listrik otak yang tidak normal.
Namun, hasil EEG tidak dapat menjadi satu-satunya dasar untuk menentukan penyebab gangguan ingatan atau memastikan hubungan gangguan tersebut dengan dugaan keracunan makanan.
Pemeriksaan neurologis, penilaian fungsi kognitif, pemeriksaan laboratorium, hingga pencitraan otak dapat dilakukan sesuai kondisi klinis pasien. Diagnosis tetap menjadi kewenangan tim dokter yang menangani pasien secara langsung.
Wahyu mengatakan gangguan memori tidak selalu berujung pada kerusakan otak permanen. Anak dan remaja memiliki kemampuan adaptasi dan pemulihan sistem saraf yang relatif baik.
Meski demikian, tingkat pemulihan setiap pasien berbeda. Hal itu dipengaruhi penyebab, tingkat keparahan, luas gangguan, kecepatan penanganan, serta respons terhadap terapi.
“Harapannya, gangguan kognitif tersebut dapat pulih. Namun, perkembangannya tetap harus dipantau. Penanganan perlu disesuaikan dengan penyebabnya serta diarahkan untuk memulihkan fungsi saraf dan mencegah kondisi berkembang menjadi lebih berat,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan agar penanganan kasus dugaan keracunan tidak hanya berfokus pada gejala pencernaan, seperti mual, muntah, sakit perut, dan diare.
Gejala yang berkaitan dengan sistem saraf juga perlu menjadi perhatian. Gangguan kesadaran, kejang, kesulitan berbicara, perubahan perilaku, kelemahan anggota tubuh, serta gangguan ingatan merupakan kondisi yang perlu mendapatkan penilaian medis lebih lanjut.
“Jika muncul gejala neurologis, pasien perlu segera mendapatkan penilaian medis secara menyeluruh. Pemeriksaan tersebut penting untuk mengetahui penyebab gangguan dan menentukan penanganan yang sesuai,” pungkas Wahyu.
Editor: Joko Piroso