Masjid Tombo Ati Panen Apresiasi, Wayang Kulit Bimo Suci Jadi Media Dakwah Maulid Nabi
Anggota Komisi A DPRD Jateng Sumarsono menambahkan, budaya memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan keluhuran budi pekerti.
Menurutnya, kekuatan wayang terletak pada perpaduan berbagai unsur seni sekaligus pesan filosofis yang terkandung dalam setiap lakon.
"Dalam setiap pertunjukan wayang pasti memberikan nilai positif yang sarat dengan filosofi, apalagi dalam pagelaran wayang kulit kolaborasi banyak seni, mulai dari seni musik, lakon, ukir, tatah sungging dan lainnya," ujarnya.
Lakon Bimo Suci mengisahkan perjalanan spiritual Raden Werkudara atau Bima setelah mendapat perintah gurunya, Resi Durna, mencari Tirta Perwitasari.
Dalam perjalanan, Bima menghadapi berbagai rintangan, termasuk pertarungan dengan raksasa di Hutan Tikrabara hingga menyelami samudra.
Di dasar samudra, Bima bertemu Dewa Ruci. Pertemuan tersebut menjadi simbol perjalanan spiritual manusia dalam memahami hakikat diri dan hubungannya dengan Sang Pencipta.
Pesan tentang kepatuhan, kejujuran, kerendahan hati dan penyucian jiwa dalam Bimo Suci kemudian dikaitkan dengan semangat Maulid Nabi Muhammad SAW, yakni meneladani akhlak Rasulullah.
Pagelaran di Masjid Tombo Ati pun tidak berhenti sebagai tontonan budaya. Pementasan tersebut menjadi upaya menghidupkan kembali seni tradisional sekaligus menjadikan budaya Jawa sebagai jembatan penyampaian pesan keagamaan kepada masyarakat.
Editor: Joko Piroso