Sendang Banyuning Sragen Dirawat, Sejarah Lokal dan Konservasi Air Jadi Perhatian
Menurut cerita sesepuh Dukuh Banyuning, Sutrisno, 68, keberadaan Sendang Banyuning berkaitan dengan kisah perjuangan pada masa penjajahan Belanda. Ia menuturkan Pangeran Mangkubumi bersama Kiai Srenggi pernah bergerak di wilayah Sukowati dan singgah di kawasan yang saat itu dinaungi pohon gayam yang dianggap sakral oleh masyarakat.
Sutrisno menuturkan, berdasarkan cerita yang diwariskan secara turun-temurun, dari lokasi tersebut kemudian muncul mata air yang airnya jernih dan melimpah.
"Airnya keluar dengan jernih. Kalau dalam bahasa Jawa disebut bening. Jadi airnya jernih itu bahasa Jawanya banyune bening. Dari sebutan tersebut kemudian lokasi sekitar sendang disebut Dukuh Banyuning karena ada sumber air, banyune bening," ujarnya.
Kisah mengenai Sendang Banyuning juga menjadi bagian dari memori masyarakat setempat. Sebuah penelitian mengenai sendang tersebut menyebut kawasan ini sebagai salah satu tempat yang menyimpan memori masyarakat Desa Singopadu dan masih dilestarikan hingga kini.
Fathurrohman mengapresiasi kegiatan yang dilakukan Yayasan Pastika bersama masyarakat. Menurut dia, upaya merawat sendang, punden, petilasan, makam kuno, dan berbagai tinggalan sejarah merupakan bagian dari menjaga warisan budaya untuk generasi berikutnya.
Ia menilai masih adanya komunitas yang secara rutin merawat peninggalan sejarah menjadi hal penting di tengah perkembangan era digital.
Editor: Joko Piroso