SRAGEN, iNewsSragen.id - Puluhan pedagang pasar mendatangi Kantor DPRD Kabupaten Sragen untuk menyampaikan keluhan terkait penerapan sistem e-retribusi yang dinilai justru memberatkan dan tidak berjalan optimal. Keluhan tersebut disampaikan dalam agenda dengar pendapat bersama anggota dewan, sebagai respons atas carut-marut digitalisasi retribusi pasar yang dinilai belum siap secara teknis maupun sumber daya manusia.
Perwakilan pedagang, Subono, mengungkapkan bahwa hasil pertemuan dengan pihak terkait sejauh ini belum menghasilkan kepastian solusi. Ia menegaskan, tuntutan utama para pedagang adalah mengembalikan sistem penarikan retribusi ke metode manual apabila pemerintah daerah belum mampu membenahi berbagai kendala e-retribusi.
“Tuntutannya sebenarnya sederhana. Kalau sistem e-retribusi masih banyak masalah dan membuat pedagang menunggak, lebih baik dikembalikan dulu ke sistem manual,” ujar Subono usai audiensi di DPRD Sragen.
Menurutnya, sistem elektronik yang seharusnya mempermudah justru menimbulkan persoalan baru di lapangan. Ia menyoroti penarikan retribusi yang tidak dilakukan secara rutin setiap hari, sehingga tunggakan pedagang menumpuk dalam jumlah besar.
“Ada pedagang yang tunggakannya sampai Rp10 juta bahkan Rp15 juta. Petugas penarik retribusi datangnya tidak jelas, kadang seminggu sekali, kadang dua minggu sekali. Akhirnya beban pedagang menumpuk,” ungkapnya.
Selain jadwal penarikan yang tidak menentu, pedagang juga mengeluhkan lemahnya transparansi sistem. Sejumlah pedagang mengaku sudah melakukan pembayaran, namun statusnya belum tercatat di sistem elektronik sehingga tetap dianggap menunggak.
Subono menilai pemerintah daerah terlalu terburu-buru menerapkan teknologi tanpa kesiapan SDM dan sarana pendukung. Ia menekankan pentingnya pelatihan petugas pasar serta ketersediaan perangkat yang memadai agar digitalisasi benar-benar membantu, bukan membebani.
“Kalau mau pakai teknologi, ya harus diimbangi SDM yang siap dan alat yang lengkap. Jangan pedagang yang jadi korban uji coba sistem,” tegasnya.
Kondisi ini diperparah dengan lesunya aktivitas perdagangan di Pasar Kota Sragen. Dari sekitar 1.200 pedagang, diperkirakan hampir 40 persen kios kini tutup akibat sepinya pembeli dan beban biaya yang tidak menentu.
Editor : Joko Piroso
Artikel Terkait
