Pagi sebelum pagelaran, warga dari berbagai usia sudah turun tangan membersihkan makam dan lingkungan desa. Mereka berdoa bersama, menyatukan niat menyambut Ramadhan dengan hati bersih.
“Ini kolaborasi budaya dan agama untuk memupuk kerukunan,” tambah Tuntas.
Malam itu, Wisanggeni Gugat bukan sekadar lakon pewayangan. Ia menjadi cermin harapan warga Purbayan, tentang kebersamaan yang tak boleh pudar, tentang tradisi yang tetap hidup di tengah modernitas, dan tentang semangat rakyat kecil yang ingin terus bersuara.
Editor : Joko Piroso
Artikel Terkait
