SRAGEN, iNewsSragen.id - Kehadiran layanan Internet Rakyat (Ira) mulai merambah wilayah Kabupaten Sragen dalam satu setengah bulan terakhir. Penyedia layanan internet nirkabel tersebut menawarkan akses jaringan berkecepatan tinggi hingga 100 Mbps berbasis teknologi 5G tanpa menggunakan instalasi kabel konvensional.
Masuknya layanan baru ini mulai menarik perhatian Panitia Khusus (Pansus) Penataan, Pengendalian, Pembangunan, dan Pengawasan Infrastruktur Pasif Telekomunikasi DPRD Sragen. Munculnya model layanan internet nirkabel dinilai menjadi tantangan baru dalam pembahasan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) terkait infrastruktur telekomunikasi di Kabupaten Sragen.
Ketua Pansus Penataan, Pengendalian, Pembangunan, dan Pengawasan Infrastruktur Pasif Telekomunikasi DPRD Sragen, Fathurrohman, mengungkapkan pihaknya telah mengundang pengelola Internet Rakyat untuk berdiskusi terkait pola layanan internet rumahan yang saat ini mulai berkembang.
Menurutnya, pembahasan regulasi sebelumnya lebih terfokus pada penataan jaringan kabel internet yang dinilai memengaruhi estetika wilayah perkotaan sekaligus memiliki potensi mendukung Pendapatan Asli Daerah (PAD).
"Selama ini pembahasan lebih banyak berkaitan dengan kabel internet yang dinilai semrawut dan perlu penataan. Kini muncul layanan nirkabel sehingga menjadi fenomena baru yang perlu dicermati," ujarnya.
Fathur menjelaskan Internet Rakyat beroperasi menggunakan jaringan menara Base Transceiver Station (BTS), sehingga berbeda dengan sistem layanan internet berbasis kabel yang selama ini menjadi perhatian utama dalam pembahasan regulasi.
Karena model layanan tersebut belum masuk dalam skema pembahasan Raperda, Pansus berupaya menyiapkan formulasi aturan agar seluruh penyedia layanan, baik berbasis kabel maupun nirkabel, dapat diperlakukan secara setara.
Dia menambahkan DPRD Sragen tengah menyiapkan skema agar layanan telekomunikasi tetap memiliki kontribusi terhadap daerah tanpa bertentangan dengan regulasi di tingkat yang lebih tinggi.
"Kami akan mencari formulasi yang tepat. Bisa berbentuk retribusi atau skema lain yang sesuai aturan. Nanti kami akan meminta masukan dari para penyedia layanan," katanya.
Sementara itu, Pemilik Diler Cita Bersatu Sragen-Boyolali, Bayu Surya Pranata, menjelaskan Internet Rakyat mulai hadir di Sragen sejak pertengahan Maret 2026 dan saat ini telah didukung 11 BTS aktif.
Dia menyebut satu titik BTS mampu menjangkau area sekitar 500 meter dengan kapasitas maksimal hingga 500 pelanggan atau rumah.
Layanan tersebut menawarkan pemasangan tanpa biaya tambahan dengan tarif langganan Rp100 ribu per bulan. Kecepatan akses yang diterima pelanggan rata-rata berkisar antara 70 hingga 75 Mbps, tergantung jarak pengguna dengan BTS.
Meski demikian, Bayu mengakui layanan tetap memiliki potensi gangguan, terutama saat terjadi pemadaman listrik yang berdampak pada operasional BTS.
"Kendala paling umum ketika listrik padam. Jika suplai listrik BTS terputus, layanan internet otomatis ikut terganggu," jelasnya.
Hadirnya layanan internet nirkabel di Sragen dinilai menjadi dinamika baru dalam perkembangan sektor telekomunikasi daerah. Selain membuka pilihan layanan bagi masyarakat, kehadiran teknologi tersebut juga mendorong perlunya penyesuaian regulasi agar perkembangan teknologi tetap sejalan dengan tata kelola daerah.
Editor : Joko Piroso
Artikel Terkait
