Krisis Air Bersih Melanda Bantul, Warga Terpaksa Sedot Selang dengan Mulut

Trisna Purwoko
Warga Kalidadap, Imogiri, Bantul, menyedot selang secara manual untuk mengalirkan air. (Foto:iNews/Trisna P)

BANTUL, iNewsSragen.idKrisis air bersih melanda warga Dusun Kalidadap 2, Kalurahan Selopamioro, Kapanewon Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Memasuki musim kemarau, warga terpaksa menggunakan cara sederhana untuk mengalirkan air dari sumber mata air ke rumah masing-masing.

Salah satunya dengan menyedot ujung selang menggunakan mulut agar air dapat mengalir menuju permukiman yang berjarak puluhan hingga ratusan meter dari sumber.

Kondisi tersebut terjadi di tengah menyusutnya debit Sendang Wonosari, salah satu sumber air yang masih dimanfaatkan warga setempat. Warga mengaku kondisi kekurangan air telah berlangsung sekitar satu bulan.

Air dari sumber tersebut digunakan untuk berbagai kebutuhan sehari-hari, mulai dari minum, mandi, mencuci hingga kebutuhan ternak.

Warga Kalidadap, Tugiyem, mengatakan hampir setiap hari masyarakat datang ke bak penampungan mata air untuk mendapatkan air. Namun, debit sumber air terus menurun seiring berlangsungnya musim kemarau.

Untuk menghindari perebutan air, warga membuat kesepakatan mengenai pola pengambilan air. Setiap kepala keluarga hanya diperbolehkan memasukkan satu selang ke dalam bak penampungan.

Selang tersebut kemudian dibentangkan hingga ke rumah masing-masing. Cara ini diterapkan agar distribusi air dapat berlangsung lebih merata.

Warga juga sepakat tidak menggunakan mesin pompa di sumber mata air. Sebagai gantinya, air dialirkan menggunakan selang dengan cara disedot secara manual.

Waktu pengambilan air pun diatur pada beberapa periode, yakni pagi, siang, sore, dan malam.

Langkah tersebut dilakukan agar seluruh warga tetap mendapatkan bagian air meski debit sumber semakin kecil.

Tugiyem mengatakan warga yang memiliki kemampuan ekonomi lebih memilih membeli air bersih menggunakan truk tangki. Namun, bagi warga kurang mampu, sumber mata air menjadi pilihan utama karena dapat dimanfaatkan tanpa harus membeli air.

Tak Memiliki Sumur

Warga lainnya, Riswanto, mengatakan penggunaan selang dari sumber mata air menuju rumah sebenarnya telah dilakukan warga sejak lama.

Kondisi geografis menjadi salah satu alasan warga tidak mengandalkan sumur. Permukiman berada di kawasan perbukitan sehingga warga mengaku kesulitan mendapatkan sumber air tanah.

Saat musim penghujan, debit air di bak penampungan biasanya cukup besar sehingga air relatif mudah dialirkan ke rumah warga.

Namun, kondisi berbeda terjadi saat kemarau. Debit air menyusut sehingga aliran yang sampai ke rumah menjadi sangat kecil.

Warga pun harus menunggu lebih lama hingga air terkumpul dan dapat digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.

Di tengah kondisi tersebut, warga berharap ada bantuan distribusi air bersih dari pemerintah. Hingga kini, warga Dusun Kalidadap 2 mengaku belum mendapatkan bantuan air bersih selama kemarau berlangsung.

Bagi warga, bantuan air bersih dinilai penting untuk memenuhi kebutuhan dasar, terutama ketika debit sumber mata air terus menurun.

Kondisi krisis air ini sekaligus menunjukkan tantangan warga di kawasan perbukitan Bantul dalam memenuhi kebutuhan air bersih saat musim kemarau.

Editor : Joko Piroso

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network