Kemarau Panjang 2026 Jadi Berkah, Luas Tanam Tembakau Ngawi Ditarget Naik hingga 2.000 Hektare
NGAWI, iNewsSragen.id – Prediksi musim kemarau tahun 2026 yang diperkirakan berlangsung lebih panas dan lebih panjang membawa harapan baru bagi petani tembakau di Kabupaten Ngawi. Setelah sempat terpukul akibat fenomena kemarau basah tahun lalu, petani kini optimistis produktivitas tembakau akan kembali meningkat.
Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Ngawi bahkan menargetkan peningkatan luasan lahan tanam tembakau pada musim tanam tahun ini. Kondisi cuaca yang diprediksi lebih kering dinilai menjadi momentum yang menguntungkan bagi pertumbuhan tanaman tembakau.
Kepala Bidang Perkebunan dan Hortikultura DKPP Ngawi, Dwi Rahayu Puspitaningrum, mengatakan musim kemarau panjang justru menjadi kabar baik bagi petani tembakau.
"Kalau untuk petani tembakau, musim kemarau panjang ini menjadi berkah. Tahun lalu kita mengalami kemarau basah sehingga produktivitas sedikit menurun," ujarnya, Kamis (21/5/2026).
Pada 2025, luas lahan tembakau di Kabupaten Ngawi tercatat sekitar 1.450 hektare. Tahun ini, DKPP menargetkan peningkatan hingga mencapai 2.000 hektare seiring meningkatnya optimisme petani.
Menurut Ayu, sapaan akrab Dwi Rahayu Puspitaningrum, faktor cuaca menjadi tantangan besar pada musim tanam sebelumnya. Curah hujan yang masih tinggi saat musim kemarau menyebabkan hasil dan kualitas panen menurun.
Produktivitas tembakau tahun lalu tercatat hanya sekitar 1,27 ton per hektare. Namun bila kondisi kemarau tahun ini sesuai prediksi, hasil panen diperkirakan meningkat hingga kisaran 1,5 sampai 1,7 ton per hektare.
"Harapannya jika kemarau benar-benar berlangsung panjang sesuai prediksi, produktivitas bisa meningkat," katanya.
Menghadapi musim tanam, DKPP Ngawi mulai melakukan berbagai persiapan. Salah satunya melalui sosialisasi kepada petani terkait persemaian serta distribusi bantuan benih.
Sebanyak 10 kelompok tani menerima bantuan benih sebagai bentuk stimulan. Meski jumlah bantuan terbatas karena keterbatasan anggaran, program tersebut diharapkan mampu mendorong semangat petani untuk kembali menanam tembakau.
Menurut Ayu, tren positif mulai terlihat karena sejumlah petani yang sebelumnya sempat menghentikan budidaya tembakau kini mulai kembali menanam.
"Petani yang tahun lalu tidak menanam tembakau, tahun ini banyak yang kembali berencana menanam. Semangat petani mulai tumbuh lagi," jelasnya.
Tanaman tembakau di Ngawi saat ini tersebar di sekitar 12 kecamatan. Wilayah dengan luasan terbesar berada di Kecamatan Karangjati dan Kedunggalar. Selain itu, budidaya tembakau juga berkembang di wilayah Bringin, Padas, Kasreman, hingga daerah dataran atas lainnya.
DKPP juga meminta para penyuluh pertanian terus mendampingi petani selama proses budidaya agar hasil panen lebih optimal.
Dari sisi harga, prospek pasar tembakau tahun ini juga dinilai cukup menjanjikan. Harga tembakau rajang kering diperkirakan dapat mencapai Rp55 ribu per kilogram apabila musim berjalan baik.
"Tahun lalu harga sempat turun hingga sekitar Rp30 ribu per kilogram karena dipengaruhi faktor cuaca. Harapannya tahun ini bisa kembali membaik," tambahnya.
Saat ini sebagian petani tembakau Ngawi juga telah bermitra dengan perusahaan rokok di Magelang. Selain itu, dukungan pemasaran dari Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) membuka akses pasar hingga sejumlah daerah lain seperti Temanggung dan Sumedang.
Dengan kondisi cuaca yang lebih mendukung dan meningkatnya minat petani, musim tanam tembakau 2026 diharapkan menjadi titik kebangkitan sektor perkebunan tembakau di Kabupaten Ngawi.
Editor : Joko Piroso