Material Posko Sekber Ditertibkan dari Lahan Sriwedari, Satpol PP Surakarta Angkut Kayu dan Genting
SOLO,iNewsSragen.id — Satpol PP Surakarta melakukan tindakan tegas menertibkan kayu dan genting yang diduga disiapkan untuk pembangunan Posko Sekber di lahan Sriwedari, Kamis (17/9).
Puluhan personel Satpol PP dikerahkan untuk mengangkut seluruh material dari kawasan Taman Sriwedari. Penertiban dipimpin langsung Kepala Satpol PP Kota Surakarta Didik Anggono.
Material berupa kayu dan genting yang sebelumnya berada di lokasi langsung dinaikkan ke dua truk. Salah satu kendaraan merupakan milik Satpol PP Surakarta.
“Ini kami bawa ke kantor (Satpol PP Surakarta). Semuanya, kayu dan genting,” kata Didik di lokasi penertiban.
Sekira pukul 14.20 WIB, kedua truk meninggalkan kawasan Sriwedari dengan pengawalan puluhan petugas.
Pemkot Surakarta menertibkan material tersebut karena ditempatkan tanpa izin di lahan yang pengelolaannya berada di bawah Pemkot Surakarta. Kawasan Sriwedari juga merupakan kawasan yang memiliki nilai cagar budaya.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surakarta Maretha Dinar Cahyono menyebut Pemkot telah lebih dulu menyampaikan surat pemberitahuan kepada pihak yang mengklaim sebagai ahli waris RMT Wiryodiningrat sebelum penertiban dilakukan.
Material itu diduga dipersiapkan untuk mendirikan Posko Sekretariat Bersama (Sekber) oleh kelompok ormas yang dikaitkan dengan pihak ahli waris RMT Wiryodiningrat. Rencana tersebut sebelumnya memicu penolakan dari sejumlah elemen masyarakat di Sriwedari.
Pemkot menyatakan penertiban dilakukan untuk menjaga ketertiban umum serta mengembalikan fungsi lahan sebagai ruang publik.
Sebelumnya, situasi sempat memanas setelah Forum Komunitas Sriwedari (Foksri) menolak keberadaan posko sekber tersebut. Mereka menggelar panggung seni dan gelar budaya di lokasi yang disebut akan menjadi titik pendirian posko.
Kegiatan itu dijadwalkan berlangsung selama sepekan sejak Selasa (15/9/2026), setiap pukul 15.00–18.00 WIB. Pedagang dan seniman yang tergabung dalam Foksri ikut terlibat dalam agenda tersebut.
Musik keroncong dan sejumlah tari tradisional ditampilkan dalam panggung seni. Koordinator acara, Sigit Pamungkas, mengatakan kegiatan tersebut merupakan agenda tahunan yang telah direncanakan jauh sebelum polemik pendirian posko muncul.
“Panggung seni dan budaya ini sudah menjadi agenda tahunan, jadi sudah jauh-jauh hari kami rencanakan,” kata Sigit.
Puluhan spanduk juga terpasang di sejumlah titik kawasan Sriwedari. Beberapa di antaranya memuat pesan “Save Sriwedari”, “Sriwedari Menolak Ormas”, dan “Kawasan Budaya Bebas Ormas”.
Pembina Foksri, Dr BRM Kusumo Putro, mengatakan kegiatan tersebut telah mengantongi perizinan dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surakarta serta kepolisian.
Menurut Kusumo, Foksri menaungi lebih dari 3.000 anggota dari berbagai elemen dan berkomitmen menjaga kondusivitas kawasan Sriwedari.
Foksri juga menyatakan menolak keberadaan posko apa pun di kawasan Sriwedari, sembari menegaskan akan mengikuti kewenangan Pemkot Surakarta dan aparat kepolisian.
“Yang berhak meminta panggung dipindah atau menghentikan acara hanya Pemkot Surakarta dan kepolisian. Di luar itu akan kami abaikan,” tegas Kusumo, didampingi Ketua Foksri Syafiq Hanafi.
Editor: Joko Piroso