CEO ReStitch, Nuha Amaliya, mengatakan pihaknya ingin membangun bisnis yang tidak hanya berorientasi pada produk, tetapi juga memberikan dampak bagi mitra penjahit dan keberlanjutan budaya batik.
"Kami tidak ingin ReStitch hanya menjadi produk yang bagus di foto. Kami ingin setiap pembeli merasakan bahwa ada penjahit yang terbantu dan budaya batik yang terus hidup," ujar Nuha saat diwawancarai secara daring, Senin (10/8/2026).
Selain mengembangkan produk retail, ReStitch juga membuka program Sustainable Workshop. Program berbasis Do-It-Yourself (DIY) tersebut menyasar komunitas, sekolah, dan perusahaan.
Workshop tersebut dirancang sebagai ruang edukasi mengenai keberlanjutan sekaligus memperkenalkan cara sederhana memanfaatkan limbah kain menjadi produk yang dapat digunakan kembali.
Bagi tim ReStitch, pemanfaatan limbah perca bukan hanya berkaitan dengan pengurangan sampah tekstil. Inisiatif tersebut juga diarahkan untuk menciptakan nilai ekonomi bagi penjahit rumahan sekaligus menjaga keberlanjutan penggunaan kain batik.
Melalui model kemitraan dan produk berbasis limbah, ReStitch berharap dapat memperluas ekosistem fashion sirkular sekaligus mengajak masyarakat melihat limbah kain sebagai bahan yang masih memiliki potensi untuk dimanfaatkan.
Editor : Joko Piroso
Artikel Terkait
