Rintihan Jasa Pembersih Makam, Lebaran 2025 TPU Pracimaloyo Sepi Peziarah

SUKOHARJO,iNewsSragen.id - Kondisi lebaran tahun ini dirasakan oleh sejumlah warga yang selama ini mengais rejeki dari menjual jasa membersihkan makam di Taman Pemakaman Umum (TPU) Pracimaloyo, Makamhaji, Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah, sangat sepi peziarah.
Lebaran Idul Fitri 1446 Hijriah tahun 2025 sudah berjalan 3 hari. Namun TPU Pracimaloyo masih terlihat sepi dari peziarah. Di area pemakaman yang memiliki luas hampir 12 ribu hektar itu hanya terlihat beberapa warga yang biasanya menawarkan jasa membersihkan makam sedang duduk-duduk menunggu peziarah yang tak juga terlihat datang.
Pantauan dilapangan, hanya segelintir peziarah yang terlihat datang di pemakaman. Mereka kebanyakan adalah warga yang berasal dari sekitar Solo Raya. Untuk warga perantuan yang pulang kampung tidak sebanyak seperti tahun lalu.
"Sangat beda jauh dengan lebaran tahun lalu yang di penuhi peziarah hingga hari ke-5 lebaran. Ini baru hari ke-3 kondisinya sudah lengang," kata Surtini (55), salah satu pekerja jasa pembersih makam, Rabu (2/4/2025).
Menurut penuturannya, biasanya TPU Pracimaloyo yang merupakan komplek pemakaman besar di wilayah perbatasan Solo-Sukoharjo bagian barat ini, sangat ramai pada saat Nyadran yakni tradisi ziarah menjelang bulan puasa Ramadhan, dan saat lebaran.
"Kalau hari ini mungkin masih pada pulang kampung jadinya sepi, tapi biasanya tepat di hari lebaran pemakaman ini ramai dipenuhi peziarah, tapi seramai-ramainya tahun ini masih kalah jauh dengan tahun lalu. Disini ada sekira 100 lebih warga yang menawarkan jasa membersihkan makam, terus juga ada yang jadi tukang parkir," ungkapnya.
Atas kondisi itu, otomatis juga berdampak pada penghasilan yang didapatkannya dari pekerjaan jasa membersihkan makam. Tahun lalu rata-rata selama seminggu setelah H+1 Lebaran bisa meraup upah perhari Rp 400-500 ribu, sekarang turun drastis hampir 80% atau sekira Rp50-100 ribu.
Rintihan yang sama juga diutarakan oleh Winarno (52), warga Makamhaji yang memiliki usaha pembuatan nisan dan jasa mengali kubur. Ia mengaku, sudah hampir satu terakhir usahanya sepi. Jika tahun -tahun sebelumnya ia selalu bersedekah untuk warga kurang mampu di sekitar rumahnya, tahun ini ia sama sekali tak berdaya.
"Selama bulan puasa ini, saya hanya mendapat satu pekerjaan mengecat bangunan pamijen (area bangunan pemakaman keluarga). Itupun hasilnya harus dibagi dengan 5 orang pekerja," bebernya.
Diantara sepinya peziarah di TPU Pracimaloyo, tampak sekeluarga besar Susanto (69) warga Solo yang lama merantau di Jakarta. Ia datang berziarah ke makam leluhurnya dengan mengajak serta anak dan cucu.
"Kegiatan ziarah ini kami laksanakan sebagai penghormatan kepada leluhur juga mengenalkan pada anak-anak bahwa kakek buyutnya adalah orang yang memiliki andil besar menjadikan mereka bisa sampai seperti sekarang ini," tandasnya.
Editor : Joko Piroso