“Dari awal tanam itu kan ada proses pembibitan, saya dikasih tahu cara penyebaran benihnya, cara ngerawat bibitnya harus berapa hari atau berapa jam. Terus diajarin juga cara nyebar yang benar gimana, cara pemupukan pupuk dasarnya gimana, sampai proses penyiramannya pun semua dikasih tahu. Dengan adanya pendamping lapangan, kita yang awalnya dari awal gak tahu apa-apa, sekarang jadi tahu,” tutur Katino.
Melalui pendampingan tersebut, Katino tidak hanya mendapatkan pengetahuan teknis, tetapi juga memahami pentingnya menentukan waktu tanam, memilih benih, melakukan pemupukan, serta mengelola air secara tepat.
Budidaya tembakau juga dinilai sesuai dengan kondisi lahan di Wonogiri yang menghadapi keterbatasan air ketika musim kemarau. Tanaman tersebut tidak membutuhkan pasokan air sebanyak sejumlah komoditas lain sehingga lahan tetap dapat dimanfaatkan untuk kegiatan produktif.
Ketekunan Katino mulai memberikan hasil. Sejak 2023, kondisi ekonominya berangsur membaik. Ia bahkan dapat membeli lahan sawah baru untuk mengembangkan usaha taninya.
Saat ini, Katino mengelola sekitar 9.000 meter persegi lahan yang tersebar di tiga lokasi, ditambah satu lahan sewa. Ia juga mempekerjakan sejumlah buruh tani untuk mendukung pola tanam bergantian antara musim hujan dan kemarau.
Editor : Suriya Mohamad Said
Artikel Terkait
