Belakangan, wacana tersebut mendapat tindak lanjut dari Yayasan Gerakan Solidaritas Nasional (GSN). Surat pemberitahuan yang diterima Suroto mencantumkan kuota 171 unit becak listrik untuk Kabupaten Sragen.
“Nah, kalau sudah ada surat jelas dan serius begini, tertulis 171 becak listrik, ini nanti tinggal disosialisasikan dan didiskusikan. Tentu akan segera saya laporkan ke Bupati,” ungkapnya.
Meski bantuan tersebut belum tiba di Sragen, Suroto menilai rencana itu dapat menjadi kabar baik bagi pengayuh becak, terutama mereka yang sudah berusia lanjut.
Menurut Suroto, kondisi sebagian pengayuh becak di sejumlah wilayah Sragen, termasuk Gemolong, masih menghadapi persoalan biaya operasional. Ia menyebut ada pengayuh yang belum memiliki becak sendiri sehingga harus menyewa armada setiap hari.
“Kasihan, sudah tua harus genjot becak, masih harus bayar setoran sewa Rp5.000, Rp10.000, sampai Rp15.000 sehari. Tenaganya rekoso (sangat lelah),” ujarnya.
Suroto berharap penggunaan becak listrik nantinya dapat mengurangi beban tersebut. Selain membantu mobilitas pengayuh, becak listrik dinilai berpotensi mengurangi kebutuhan tenaga fisik dibandingkan becak konvensional.
“Kalau ada becak listrik ini, mereka tak perlu bayar sewa dan tak perlu memeras keringat terlalu keras. Ini betul-betul ada rasa kemanusiaan,” katanya.
Editor : Joko Piroso
Artikel Terkait
