Warga Desa Kowang lainnya, Suyatno, mengatakan kebutuhan air tetap harus dipenuhi meski bantuan tidak datang setiap hari. Menurut dia, warga bisa mengeluarkan biaya hingga Rp50.000 untuk mendapatkan sekitar 1.000 liter air bersih.
Pengeluaran tersebut menjadi beban tambahan bagi warga yang terdampak kekeringan karena kebutuhan air berlangsung setiap hari.
Saat bantuan air bersih datang, warga terlihat berbondong-bondong membawa wadah penampung untuk mendapatkan pasokan. Distribusi air menjadi salah satu upaya untuk membantu masyarakat di wilayah yang mengalami keterbatasan sumber air selama musim kemarau.
Data BPBD Sragen menunjukkan dampak kekeringan hingga awal Oktober 2026 mencakup 20 desa di delapan kecamatan. Jumlah warga terdampak mencapai 19.047 jiwa atau 5.684 KK.
Kondisi tersebut menunjukkan kebutuhan air bersih masih menjadi persoalan bagi warga di sejumlah wilayah Sragen. Selain distribusi bantuan, warga juga mengandalkan pembelian air ketika pasokan tidak tersedia.
Bagi masyarakat terdampak, ketersediaan air bersih bukan hanya berkaitan dengan kebutuhan rumah tangga, tetapi juga menambah pengeluaran ketika mereka harus membeli air secara mandiri.
Editor : Joko Piroso
Artikel Terkait
