SRAGEN, iNewsSragen.id – Raut waswas terpancar jelas di wajah Suroso (72), warga Dukuh Bendorejo, RT 33, Desa Sambi, Kecamatan Sambirejo, Kabupaten Sragen. Di usia senja, ia seharusnya menikmati masa tua dengan tenang. Namun sejak lebih dari dua dekade lalu, hidupnya terus dibayangi ancaman tanah bergerak yang tak kunjung berakhir.
Suroso menjadi salah satu potret nyata dampak pergerakan tanah di lereng Sambirejo. Sejak tahun 2000, ia telah tiga kali memindahkan rumahnya. Ketiganya rusak dan amblas akibat pergerakan tanah. Peristiwa terbaru terjadi sekitar dua pekan lalu, ketika rumah ketiganya kembali ambrol pada malam hari.
“Kejadiannya malam. Tiba-tiba ambrol. Untung saya tidak sedang di kamar, posisinya di belakang rumah,” ujar Suroso saat ditemui, Rabu (—).
Saat ini, Suroso terpaksa menumpang di rumah adiknya yang kosong karena ditinggal merantau ke luar Jawa. Meski dihantui rasa takut, ia mengaku belum memiliki pilihan lain selain bertahan di tanah kelahiran orang tuanya tersebut. Total kerugian materiil yang ia alami ditaksir mencapai lebih dari Rp60 juta.
“Ya tetap bertahan. Mau bagaimana lagi, saya tidak punya tempat tinggal lain,” keluhnya.
Kepala Desa Sambi, Kresna Widya Permana, membenarkan bahwa pergerakan tanah tidak hanya dialami satu warga. Berdasarkan pemetaan desa, terdapat tiga dukuh yang masuk zona merah pergerakan tanah.
“Di RT 37 Dukuh Tawangsari ada enam rumah terdampak, di Bendorejo satu rumah, dan di Dukuh Wonorejo tiga rumah,” jelas Kresna.
Ia menambahkan, sejumlah rumah di Dukuh Tawangsari dan Bendorejo mengalami kerusakan berat hingga tidak lagi layak huni. Beberapa warga terpaksa mengungsi ke rumah kerabat demi keselamatan.
Editor : Joko Piroso
Artikel Terkait
